Tingkatan Amal Kebaikan Menurut Jenisnya
Minggu, April 21, 2013 | Author: AbuRufaid AgusSuseno
Setelah kita mengenal bahwa amal kebaikan itu beringkat-tingkat, kita juga telah mengenal dan mengetahui bahwa para salaf sangat perhatian terhadap tingkatan amak kebaikan, maka sekarang kita akan lebih memperdalam kembali tingkatan amal kebaikan menurut berbagai macam sisi. Yang pertama, adalah tingkatan amal kebaikan menurut jenisnyat.

Yang dimaksud dengan tingkatan amal kebaikan menurut jenis adalah menurut jenis amalan tersebut. Amalan tersebut termasuk jenis amalan wajib atau sunnah. Jika wajib, amalan tersebut termasuk landasan-landasan pokok dalam islam atau bukan dan seterusnya. Dan jika amalan tersebut termasuk amalan sunnah, maka dikembalikan kepada jenis amalan sunnah tersebut.

Dan secara umum bisa kita ringkas bahwa tingkatan amal kebaikan jika ditilik dari jenisnya, bisa diperinci sebagai berikut secara berurutan :

-          Merealisasikan dua kalimat syahadat
-          Shalat
-          Zakat
-          Rukun islam lainnya
-          Seluruh kewajiban, yang paling utama adalah birrul walidain
-          Menuntut ilmu sunnah
-          Jihad
-          Dzikir

Dalil tingkatan amal seperti di atas

Dalam shahihain dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata, “Aku bertanya kepada Nabi “Amalan apakah yang paling utama?”. Beliau r menjawab, “Shalat pada waktunya”. Aku berkata, “Kemudian amalan apa lagi?”. Beliau r menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua”. Aku berkata, “Kemudian amalan apa lagi?”. Beliau r menjawab, “Jihad di jalan Allah”. Kemudian beliau diam, dan seandainya  aku bertanya lagi niscaya Beliau r akan menyebutkan amalan yang utama berikutnya” (diriwayatkan oleh Bukhari n0 2782 dan Muslim no : 85)

Dalam shahihain juga dari hadits Abu Hurairah radiyallahu anhu berkata, “Rasulullah r pernah ditanya, “Amalan apakah yang paling utama?” beliau menjawab, “Beriman kepada Allah dan rasulnya”. Beliau ditanya kembali, “Kemudian amalan apa?”. Beliau r menjawab, “Jihad di jalan Allah”. Kemudian beliau ditanya kembali, “Kemudian amalan apa?”. Beliau r menjawab, “Haji mabrur”. (diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Hadits Abu Dzar radiyallahu anhu berkata, “Aku bertanya kepada Nabi r, “Amalan apakah paling utama?”. Beliau r menjawab, “Iman kepada Allah dan jihad di jalanNya”. (diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Jika ada yang bertanya : Bukankah hadits-hadits di atas tidak secara pasti menyebutkan urutan sebagaimana yang disebutkan di atas?

Jawabannya adalah bahwa cara menggabung jika ada tingkatan amal kebaikan yang terkesan saling bertolak belakang adalah sebagai berikut :

Pertama               : Mengklasifikasikan tingkatan amal kebaikan menurut jenisnya. Hal ini dikarnaka, bahwa lafal-lafal global dalam sebuah nash harus ditafsirkan menurut nash-nash lain yang lebih khusus sesuai kaedah-kaedah syariat dan pokok-pokok agama.

Sebagai contoh, dalam hadits abu hurairah, ketika rasulullah ditanya tentang amalan paling utama, maka beliau menjawab ; beriman kepada Allah dan rasulnya. Pada hadits Ibnu Mas’ud ketika rasulullah ditanya tentang amalan paling utama, maka beliau menjawa shalat pada waktunya. Kedua jawaban ini dibawa kepada makna rukun islam. Beriman keapda Allah dan rasulnya melambangkan syahadat. Shalat melambankan rukun-rukun islam lainnya. Namun, di sini hanya disebutkan rukun pertama dan kedua untuk mengisyaratkan bahwa kedua amalan tersebut amalan terpenting dari rukun-rukun islam lainnya.

Kedua                   : Jika langkah pertama tidak mungkin ditempuh, maka dikembalikan kepada faktor-faktor lainnya yang melatarbelakangi amalan tersebut. Faktor-faktor ini akan dijelaskan secara perinci di pembahasan-pembahasan berikutnya. Adapun dalam pembahasan ini, beliau memfokuskan pembagian tingkatan amal kebaikan menurut jenisnya saja. Sehingga, amalan karena faktor tertentu lebih utama daripada amalan lainnya meskipun terkadang amalan yang kurang utama tadi lebih utama jika dilhat menurut jenisnya.

Sebagai contoh, disebutkankan dzikir baru jihad. Maka yang dimaksud dengan dzikit di sini adalah dzikir yang terus menerus dan berkesinambungan, bukan hanya sekedar dzikir lewat lisan saja.

Ketiga                   : jika langkah kedua tidak mungkin ditempuh, maka tingkatan amal kebaikan tersebut dibedakan menurut waktunya.
 
Sebagai contoh, penyebutkan jihad kemudian haji dalam hadits abu hurairah, menunjukkan bahwa jihad lebih utama daripada haji. Padahal jika dilihat dari jenisnya, maka haji lebih utama daripada jihad. Untuk mensikronkan, maka kita katakan bahwa haji dalam hadits abu hurairah lebih utama karena  jihad saat itu fardhu ain, sedangkan haji saat itu masih sunnah.

Demikian, ringkasan tingkatan amal kebaikan menurut jenisnya. semoga bisa membantu kita untuk bisa mengamalkan amal kebaikan dari yang lebih utama dari amalan-amalan utama lainnya.
This entry was posted on Minggu, April 21, 2013 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.